Selasa, 24 Agustus 2010

Dibalik kesulitan ada kemudahan

Dibalik Kesulitan ada Kemudahan

Mengutip ayat Al-Qur’an Surat Alam Nasyrah 5-6: “Karena sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan; sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan”. Ayat tersebut menjadi inspirasi dikala kesulitan menghadang.
Sebagai PNS yang tugas utamanya mengabdi negara, kesulitan menjadi hal biasa dalam menjalani hidup sehari-hari. Seringkali gaji dan honor hanya cukup untuk sampai tengah bulan, akhir bulan mulai cari utangan sana sini. Namun alhamdulillah, selalu saja ada kemudahan di kala masa sulit melanda.
Pernah suatu ketika, uang tinggal dua ribu rupiah, padahal tanggal baru menunjukkan angka 15, artinya baru setengah bulan. “Mau makan apa kita bun?”, tanyaku pada istri tercinta. “Masih ada sih telor beberapa, dan nasi dua literan lah, cukup sih buat 3-4 hari”, jawab istri. Petunjuk bensin di motor tinggal sepertiga, artinya cuma cukup buat 2 hari ngantor. Kebetulan kantorku hanya berjarak 7 km, jadi PP 14 km per hari. Dengan sedikit harap-harap cemas, aku berangkat ke kantor. Sesampai di kantor, apel pagi seperti biasa, lalu masuk kantor dengan wajah sedikit kusut.
Sedang enak-enaknya mengetik, tiba-tiba aku dipanggil. “Pak, tolong nih tandatangani, ada rapelan honor sedikit buat Bapak dari pekerjaan bulan lalu”, seorang staf TU menghampiri sekaligus menyodorkan berkas untuk ditandatangani. Selesai teken, dia menyodorkan amplop berisi honor yang memang belum dibayarkan. Biasanya memang selalu dirapel, tetapi kerapkali jadwal pembagiannya sering tidak jelas, kadang awal bulan, kadang sudah dua bulan lebih belum keluar, kadang bahkan gak jelas entah kemana!!! Kadang-kadang cuma suruh teken, tapi honornya sudah hilang tak tentu rimbanya. Alhamdulillah, kali ini besarnya lumayan, cukuplah untuk hidup sampai akhir bulan.
Lain waktu, musim kemarau tiba. Air mulai menyusut, termasuk yang mengalir ke rumahku. Biasanya bak air sudah penuh dalam satu jam, kali ini hampir tiga jam baru penuh. Bahkan terakhir malah tidak ada air sama sekali sampai mesin panas dan nyaris terbakar. Langsung saja kupanggil tukang gali ke rumah untuk mencari sumber air baru. “Berapa biayanya Pak?”, tanyaku. “Yah, enam ratus ribu deh, dah sama pipa dan ongkos gali”, jawab sang tukang gali enteng. Duk!! Seperti ada yang memukul kepalaku. Betapa tidak, uang di tabungan dan di kantong tinggal 650 ribu, lagi-lagi tanggal belum mencapai angka 13. Pikir-pikir sejenak,”Ya sudahlah Pak, tolong kerjakan sekarang ya, gak enak sama tetangga minta air terus-terusan”, jawabku spontan. Ya Alloh, semoga amal baik kita bisa membantu memecahkan persoalan ini.
Penggalian telah selesai, airpun mulai mengucur, dan tabungan terkuras untuk membayar tukang, bahkan minta dilebihkan duapuluh ribu, alasannya harga pipa naik. Hmmm, uang tinggal sepuluh ribu, karena aku juga harus menyiapkan makan dan rokok para tukang tersebut. Habis sudah, tinggal cari utangan kanan kiri nih, pikirku.
Seminggu berlalu, belum ada juga tanda-tanda bakal keluar uang, sementara cadangan makanan mulai menipis, dan pinjaman harus segera dilunasi. Sudah malas rasanya kaki melangkah ke kantor, tapi kupaksakan juga menghela motor satu-satunya untuk berangkat. Sampai di kantor, ternyata sudah ada tamu menunggu. “Maaf Pak, saya baru sampai, ada apa?”, tanyaku. “Ini pak, ada titipan honor dari Bapak Amir (bukan nama sebenarnya: pen) sebagai tim teknis waktu pembahasan kemarin di kantor kami (Instansi lain: pen)”. Sekali lagi, Subhanalloh, sujud syukur begitu kubuka amplop titipan tadi. Hutang bisa terbayar, dan hidup aman sampai akhir bulan.
Oleh karena itu yakinlah, apabila kita dalam kesulitan, Alloh Yang Maha Kuasa akan selalu membantu hambaNya, selama hamba tersebut berbuat baik dan ikhlas tanpa pamrih apapun, serta tetap berupaya menjemput rezeki, mengutip ungkapan Aa Gym.

Fresh your mind

Ikhlas adalah kunci menuju sukses

Inilah yang saya sebut “kunci sukses yang terlupakan
Kunci sukses yang terlupakan yaitu “ikhlas“. Satu kata yang akan mempertanyakan perasaan kita terhadap aspek-aspek kehidupan yang lebih luas. Muara hati yang akan menentukan kesuksesan kedepan. Kunci ini terkesan sederhana, namun cobalah kita renungkan bersama, apakah tindakan-tindakan kita menuju kesuksesan telah dilandasi dengan hati yang ikhlas? Masing-masing orang pasti  punya jawaban sendiri-sendiri…
Sederhananya, Aspek ikhlas itu  bisa kita rasakan ketika menggeluti suatu bidang usaha atau bisnis. Coba periksa keihklasan hati anda dalam menjalankannya. Adakah rasa sabar disana? Adakah perasaan plong ketika mengalami penundaan keberhasilan? Periksalah satu-satu. Jika jawabannya “iya” dengan meyakini, bahwa apapun yang terjadi di dunia ini sesungguhnya Maha Karya Tuhan,  maka apapun yang anda lakoni, sepanjang itu berjalan dalam koridor yang tepat, maka tunggulah, kesuksesan akan menghampiri anda.
Saya sudah coba merenungkan kunci sukses ini, dan memang pengalaman saya mengatakan, kunci ini tidak bisa di terjemahkan dalam bahasa-bahasa yang logis. Karena ikhlas adalah kalimat Tuhan, yang hanya bisa  dipahami dengan pendekatan supra-logis. Menggunakan hati, perasaan yang bersifat kemanusiaan.
Dalam beberapa usaha yang telah saya coba, dengan tekad dan keyakinan yang kuat. Semuanya belum ada yang berhasil. Saya tidak mengatakan gagal, karena kata gagal lebih dekat dengan diam. Walau demikian, saya merasa puas, karena telah berani mencobanya.
Dan setelah saya renungkan, saya akui, ada secercah ketidak-ikhlasan dalam menjalankan usaha-usaha tersebut. Walau saya sudah menerapkan kunci-kunci sukses yang lain. Seperti  mulai dari membangun impian, perhitungan risk-management atau antisipasi resiko, target cash flow lalu action. Namun orientasi saya pada saat itu  semata-mata mencari penghasilan, untuk menutupi kehidupan rumah tangga.
Akibatnya, dalam menjalankannya saya cenderung arogan dan semua keputusan saya hanya menggunakan pertimbangan untung-rugi, menurut saya ini bisnis. Wajar dong saya berfikir demikian. Namun semakin hari, saya merasa kok tidak menemukan kebahagiaan, dan usaha saya cenderung merosot, tidak seperti yang saya perhitungkan.  Dan akhirnya saya tutup. Perasaan menyesal dan mengeluh, sempat juga mengrogoti mental saya. Namun apalah gunanya, kecuali penyesalan dan keluhan saya bisa mengembalikan semua modal saya, saya pasti akan lakukan itu setiap saat. Tapi sayangnya tidak!
Salah satu guru terbaik adalah pengalaman dan kesalahan. Yang bersifat jujur dan bijaksana. Pengalamanlah yang membuat seseorang lebih bijaksana dalam menyikapi hidup dan dunianya. Dan melalui kesalahanlah seseorang bisa belajar memperbaiki tindakannya kemudian.
Lalu  apakah semuaorang harus melalui itu semua untuk sukses?
Itulah gunanya teman, melalui pengalaman dan kesalahan teman-teman, kita bisa belajar dan memetik ilmu dibalik itu semua. Sama dengan pengalaman Mas Zam yang di posting baru-baru ini. Menurut saya pengalaman beliau sangat bernilai. Keinginan untuk sukses yang diiringi dengan keihklasan dalam menjalankannya. Membuat saya tertegun, kagum. Artikel yang layak untuk di baca.
Pesan saya, mari kita jadikan ikhlas sebagai kunci sukses kita dalam meraih target yang belum sempat tercapai sampai detik ini.